Senin, 18 Oktober 2010
KATA PENGANTAR.
AL-QURAN: MUKJIZAT ABADI
Jalaluddin Rakhmat
( 1 / 2 )
Seorang kafir Makkah berkunjung ke Nejed. Ia meninggalkan Nabi Muhammad saw., orang yang sangat dibencinya, menemui Musailamah Al-Kadzdzab, yang juga mengaku sebagai nabi. Musailamah berkata kepadanya: "Apa gerangan yang turun kepada kawanmu akhir-akhir ini?" Amr bin Ash, tamu dari Makkah itu, menjawab: "Telah turun satu surat yang singkat, padat dan indah." "Bagaimana surat itu?", tanya Musailamah. Amr bin Ash kemudian membacakan surat ini:
Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling mewasiatkan kebenaran dan saling mewasiatkan kesabaran.
Sejenak Musailamah tepekur, lalu berkata, "Surat semacam itu turun juga kepadaku." Giliran Amr bertanya, "Bagaimana bunyi surat itu?" Musailamah berkata:
Wahai kelinci, wahai kelinci. Kamu itu cuma dua telinga dan dada. Di sekitarmu lubang galian.
"Bagaimana pendapatmu, hai Amr?" Amr segera menjawab, "Demi Allah, Anda tahu bahwa aku tahu Anda berdusta." (Tafsir Ibn Katsir 4:547).
Amr bin Ash, yang waktu itu belum masuk Islam dan tidak menyukai Nabi Muhammad saw. mengaku dengan jujur bahwa Al-Quran mengandung kata-kata yang singkat dengan kandungan makna yang dalam. Kata-kata itu dirangkai dalam susunan kalimat yang indah. Amr menyebumya suratun wajizatun balaghatun.
Surat "Waktu" yang pendek itu mengajarkan kepada manusia untuk memperhatikan waktu atau tanda-tanda zaman. "Waw qasam" (huruf sumpah) dipergunakan untuk mencengkeram perhatian pendengar. Alangkah dahsyatnya waktu. Peredaran waktu akan meletakkan manusia dalam kerugian. Waktu akan mengauskan manusia. Kecuali mereka yang mengisi waktu itu dengan kehidupan yang bermakna; yakni kehidupan yang berisi iman, amal saleh, dan kerja sama dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran. Kata Imam Syafi`i: "Seandainya manusia merenungkan surat ini, cukuplah satu surat ini saja sebagai pedoman manusia." Bandingkan surat "Waktu" ini dengan surat "Kelinci"-nya Musailamah. Pedoman hidup apakah yang dapat kita petik dari kisah kelinci itu. Karena itu, Amr bin Ash segera yakin bahwa Musailamah berdusta.
Namun Musailamah tidak jera. Untuk menandingi surat Al Kautsar, ia membuat surat AI-Jamahir:
Sesungguhnya aku telah memberikan padamu orang banyak. Salatlah kepada Tuhan-Mu dan nyatakan secara terbuka.
Musailamah hanya bisa menulis dua ayat saja. Sekarang bandingkan, kekayaan makna pada "Al-Kautsar" (nikmat yang banyak) dengan "AI-Jamahir". Lihat, betapa indahnya hubungan perintah salat dengan perintah berkorban; dan betapa centang-perenangnya hubungan antara "salat"-nya Musailamah dengan pernyataan terbuka. Perhatikan juga bagaimana Allah menutup surat pendek itu dengan janji yang menggetarkan, "Sesungguhnya musuhmu itulah yang akan binasa."
Saya akan menyerahkan kepada kearifan pembaca untuk membandingkan pembukaan Surat AI-Nazi'at dengan karya Musailamah ini:
Demi perempuan-perempuan yang menggiling gilingan. Demi perempuan-perempuan yang mengadon adonan. Demi perempuan-perempuan yang memasak roti.
Dan inilah pembukaan Surat AI-Nazi'at:
Demi para malaikat yang merenggut nyawa dengan keras. Dan yang menarik nyawa dengan perlahan. Dan yang melayang dengan cepat. Dan yang menyusul dengan kencang. Dan yang mengatur segala urusan.
Apa yang dilakukan Musailamah adalah upaya untuk menjawab tantangan AI-Quran. Kepada bangsa Arab, yang waktu itu terkenal piawai dalam menggunakan bahasa, yang melahirkan banyak penyair, Al-Quran menantang mereka berkali-kali. Mula-mula AI-Quran menyuruh mereka membuat kitab yang seperti AI-Quran.
Katakanlah: "Sesungguhnya kalau manusia dan jin itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa Quran ini, niscaya mereka tiada akan dapat membuat yang serupa Quran, biarpun sebagiannya menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (Al-Isra' 88).
Ataukah mereka mengatakan: "Dia saja yang membuat-buat Al-Quran itu." Tidak, melainkan mereka yang tidak percaya. Hendaklah mereka mengemukakan perkataan yang serupa dengan itu, bila mereka benar. (Ath-Thur 33-34).
Kemudian, Al-Quran menantang mereka untuk membuat 10 surat seperti surat-surat dalam AI-Quran.
Atau mereka mengatakan: "Dialah yang mengada-adakan Al-Quran. " Katakanlah: “Kemukakanlah sepuluh surat yang diada-adakan itu yang menyamai Al-Quran dan panggillah siapa pun yang sanggup selain Allah, kalau kamu benar. " (Hud 13 ).
Konon, tiga penyair besar - Abul 'Ala AI-Ma'ri, Al-Mutanabbi, Ibn al-Muqaffa' - berusaha memenuhi tantangan ini. Tidak sanggup mereka menggubah satu ayat pun, sehingga mereka mematah-matahkan pena dan merobek-robek kertas mereka. Akhirnya Al-Quran menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang seperti Al-Quran:
Dan jika kamu masih ragu-ragu tentang kebenaran Al-Quran yang Kami turunkan pada hamba Kami (Muhammad), cobalah kamu kemukakan sebuah surat seumpama AlQuran itu dan panggillah pembantu-pembantumu selain Allah, bila kamu benar. Dan kalau kamu tidak bisa membuatnya, dan kamu tidak akan bisa membuatnya, maka jagalah dlrimu dari neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu. Disediakan untuk orang yang tidak beriman." (Al-Baqarah 23-24).
Untuk menjawab tantangan yang terakhir inilah, Musailamah membuat Surat Kelinci, Surat Jamahir, dan Surat Tukang Adonan. AI-Quran menantang orang Arab supaya membuat "satu surat seumpama Al-Quran" dalam hal diksi (pilihan kata), susunan kalimat (balaghah), dan kandungan maknanya (bayan). Anda melihat Musailamah tidak mampu. Al-Mutanabbi tidak mampu. Penyair-penyair besar sepanjang sejarah juga tidak mampu. Dalam bahasa Arab, tidak mampu itu ‘ajiza. Membuat tidak mampu adalah a'jaza. Sesuatu yang membuat orang tidak mampu disebut mujizat. Proses "men-tidak-mampukan" disebut I’jaz.
Dalam 'Ulum Al-Quran, ada pembahasan mengenai I’jaz al-Quran. Di dalamnya, para ulama Al-Quran membahas keistimewaan-keistimewaan Al-Quran, yang membuat siapa pun tidak akan sanggup menyamainya. Dr. Abu Zahra' AI-Najdiy, pengarang buku yang Anda pegang, menyebutkan beberapa buku yang khusus membahas I’jaz al-Quran. Tidaklah pada tempatnya di sini kita membahas isi buku-buku itu. Cukuplah di sini saya kutipkan penggalan-penggalan pendek dari Sayyid Thabathaba'i dalam Tafsir Al-Mizan 1:63-73.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar